Serang, progresnews.com – Bagi kalangan aktivis, Nama Wiji Thukul begitu sangat familiar. Di bawah rezim Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, mWiji Thukul dikenal juga sebagai penyair kerap menyuarakan ketertindasan lewat puisi dan kata-katanya.
Pria kelahiran 26 Agustus 1963 itu juga aktif 'menggedor-gedor' Orde Baru untuk membuka keran demokrasi. Namun, selepas peristiwa pada 27 Juli 1996, di mana terjadi kerusuhan di sekitar perebutan kantor PDIP di jalan Diponegoro, ia disebut sebagai salah satu pemicunya dan ditetapkan sebagai tersangka.
Wiji masuk dalam daftar 14 aktivis yang disebut sebagai pemicu kericuhan itu, karenanya ia pun mulai melakukan ‘pengembaraannya’ ke Pontianak selama delapan bulan dan berpindah-pindah. Hingga kini, dirinya tak pernah ditemukan keberadaannya. Banyak rumor yang berkembang bahwa ia diculik dan kemudian mati dibunuh, tapi hingga kini jasadnya pun tak jua diketahui kalau benar telah mati.
Kisah yang dialami Wiji Thukul, membuat Yosep Anggi Noen tertarik untuk menggarapnya dalam sebuah film yang kemudian ia beri judul Istirahatlah Kata-kata.
"Wiji Tukul sosok orang biasa, tapi dia sangat setia dan percaya bahwa puisi dan kata-kata mampu melawan ketertindasan," ungkap Anggi.
Menurut Anggi, tak banyak generasi muda saat ini yang mengetahui sosok seperti Wiji Thukul, yang pernah berjuang untuk demokrasi, dan dibungkam.
“Anak-anak muda tidak tahu siapa Wiji Thukul, atau dapat dikatakan hanya sedikit yang tahu. Menariknya, mereka sangat mengenal kata-kata, seperti 'Hanya ada satu kata: Lawan!', tapi tidak tahu siapa yang menciptakan," katanya.
Anggi menambahkan, masyarakat mestinya melihat kembali sejarah, khususnya akan keberadaan sosok Wiji Thukul yang selalu menyuarakan perlawanan, dan memihak pada kemanusiaan. “Saat ini lebih banyak orang berteriak dan kosong. Dampaknya malah impulsif destruktif," ucapnya.
Twitter, kata dia, telah menjadi senjata baru era sekarang untuk menyampaikan pendapat dengan bebas. Hanya saja, banyak orang yang menggunakannya untuk mengumpat, menghujat, menghasut, dan atau membunuh karakter orang lain.
“Orang-orang masa kini harus belajar dari cara seperti Wiji Thukul dalam memanfaatkan kata-kata, untuk menyuarakan ketertindasan, dengan kata-kata lugas, bermakna, dan juga dilatarbelakangi kekuatan intelektualitas yang tinggi. Tidak asal 'njeplak,'" tambah dia.
Film sang aktivis yang dibuat dalam versi bahasa Inggris dengan judul ‘SOLO’ itu kata Anggi, dilakukan melalui riset yang cukup panjang. Riset difokuskan pada periode saat Wiji melarikan diri ke Pontianak selama delapan bulan.
"Itu periode paling krusial dari hidupnya, ketika itu pertama kali ia disebutkan sebagai tersangka. Dia memang demonstran, aktivis, dipanggil ke Kodim, tapi tidak pernah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dianggap sebagai pemicu kerusuhan yang sebenarnya bukan gerakan dia," ujar Anggi.
Dalam proses riset, Anggi lalu pergi bertemu para sahabat, musuh ideologi, teman satu organisasi, juga pedalaman Kalimantan, serta keluarga dekat sang aktivis. Anggi pun bertemu dengan Halim Hade untuk menemukan sosoknya, sosok Wiji di dalamnya.
Usai Riset, Anggi kemudian menjadikan Fajar Merah, putra dari Wiji Thukul hasil pernikahannya dengan Siti Dyah Sujirah sebagai panduan bagi aktor dalam menghidupkan karakter Wiji Thukul. Fajar yang juga seorang seniman, kerap menyuarakan ide soal kebebasan demokrasi, ketertindasan, tentu saja mengenai cinta keluarga dan romantisme manusia.
Untuk makin melengkapi risetnya, sutradara berusia 33 tahun itu juga mengumpulkan sejarah tertulis yang ada di Ohio State University, dan Belanda.
Di film ini, kata Anggi, ia juga menghadirkan semua puisi-puisi Wiji Thukul, termasuk tulisan dan wawancaranya, bahkan wawancara dengan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang saat Wiji mengamen di sana.
Film Istirahatlah Kata-kata yang dibintangi Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul, dan Marissa Anita sebagai Sipon, telah diputar di sejumlah festival film internasional.
Beberapa waktu lalu, film tersebut ditayangkan perdana pada Locarno International Film Festival ke-69, di Swiss. "Responnya menarik, melalui film ini, orang-orang bertanya soal demokrasi di Indonesia, dan membuat mereka tahu bahwa pernah ada rezim yang menekan,” ujar Anggi.
Pekan ini, film Wiji Thukul tersebut menjadi satu dari beberapa film Indonesia yang akan ditayangkan pada Busan International Film Festival ke-21, pada 6-14 Oktober 2016.
Di Indonesia, Film Istirahatlah Kata-kata dijadwalkan rilis pada Januari 2017. (CNN/Red)
