Nilai Rupiah Anjlok, Ribuan Buruh Terancam PHK
2 September 2015 Regional Leave a comment 149 Views
Berita Terkait
Dalam Tiga Bulan, 12 Ribu Pekerja Tangerang Di-PHK
6 Oktober 2015
DPR Kabupaten Serang Minta Pemkab Awasi Tenaga Kerja Asing
7 September 2015
Ancaman PHK Di Depan Mata, Ribuan Buruh Siap Geruduk Istana Negara
30 Agustus 2015
Serang, Progresnews.com — Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) selama ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Di Provinsi Banten, sedikitnya 7.000 PHK akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten Hudaya Latuconsina mengatakan, 7.000 buruh yang di-PHK tersebut berasal dari empat perusahaan, tiga diantaranya berdomisili di Kabupaten Serang dan satu di Kabupaten Tangerang.
Ia menjelaskan, PHK terbesar terjadi di PT Cingluh Indonesia yang merupakan perusahaan produsen sepatu, yakni sebanyak 2.500 kartawan. “Saya tidak hafal empat perusahaan apa saja, yang saya tahu PT Cingluh yang sampai 2.500 karyawan di-PHK. Kami cek produktivitasnya memang menurun, dan sudah tidak bisa apa-apa,” ujar Hudaya, Selasa (1/9).
Ia mengatakan, dalam hal ini Disnaktertrans hanya menerima laporan terkait hal tersebut. Pihaknya akan mengambil tindakan jika kewajiban perusahaan terhadap karyawan tidak diselesaikan.
“Kami tidak bisa apa-apa, kecuali menerima kenyataan bahwa pengangguran tentu akan bertambah akibat PHK ini. Yang menjadi masalah adalah ketika kewajiban-kewajiban perusahaan terhadap karyawan yang kena PHK itu tidak dilaksanakan, itu yang kami monitor,” kata Hudaya.
Ia menjelaskan, PHK terjadi akibat pelemahan ekonomi yang berdampak pada keberlangsungan produktivitas di beberapa perusahaan. Kata dia, sepanjang nilai dolar masih tinggi belanja pemerintah juga tidak efektif. Apalagi, kondisi eskpor kini tidak semibang dengan impor.
“Jika perusahaan menentukan sikap PHK, perusahaan harus mempunyai analisis sendiri dari berbagai macam yang memang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Sementara, Ketua Konsfiderasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Banten, Riden Hatam Azis, mengatakan, buruh menjadi korban atas kesalahan pemerintah dalam pelemahan ekonomi. “PHK tidak harus terjadi karena pelemahan ekonomi. Apalagi bukan buruh yang salah,” katanya.
Ia menyesalkan PHK yang terjadi akibat pelemahan rupiah dan negara yang tidak hadir untuk memberikan solusi. “Kalaupun PHK ini tidak bisa dihindari, buruh harus mendapatkan hak-haknya. Jangan sampai ketika mereka tidak bekerja, lalu harga kebutuhan kian mahal, mereka tidak bisa hidup,” ujarnya.
Saat ini pihaknya sedang memverifikasi perusahaan yang melakukan PHK. “Jangan sampai situasi pelemahan ekonomi dimanfaatkan oleh perusahaan nakal untuk melakukan pembenaran pemecatan sepihak dan mengganti karyawan tetap dengan karyawan kontrak atau outsorcing,” ucapnya.
Ia mengatakan menghadapi krisis ini pekerja harus bekerja dengan baik. Lalu perusahaan pun diminta untuk melakukan pengelolaan keuangan dengan menerapkan efisiensi belanja, seperti uang makan, dana operasional dan uang listrik dengan baik.
“Sekarang ini perusahaan jangan sampai PHK, walaupun rupiah anjlok tapi diinginkan bertahan. Tidak perlu mengurangi biaya pegawai, tetapi efisiensi anggaran saja,” tuturnya. (PN13/PN06)
Pilihan Redaksi:
Dampak Pelemahan Rupiah, Buruh Tangsel Alami PHK
Ancaman PHK Di Depan Mata, Ribuan Buruh Siap Geruduk Istana Negara
Rupiah Terus Melemah, Ribuan Pekerja Jawa Timur Di PHK
112 Buruh Asal Subang Dibuang Kebanten
Buruh Tangerang Minta Upah Minimum naik Jadi Rp 4 Juta
Google +