Serang, progresnews.com -- Lemahnya komunikasi politik Bakal Calon Gubernur Petahana Rano Karno mendapat perhatian khusus dari banyak pengamat di Banten. Persoalan belum adanya partai koalisi dan calon Wakil yang akan mendampinginya pada Pilgub Banten 2017 mendatang, menjadi sorotan utama
Akademisi sekaligus Pakar Komunikasi Politik Ujang Giri, lemahnya sosok Rano dalam mengelola komunikasi politik sangat terlihat jelas ketika 'si doel' menjadikan rumah dinas Gubernur sebagai media lobi-lobi politik pribadi
"Padahal kita tahu rumah dinas bukan tempat untuk ajang politik, seharunya Rano Karno bisa lebih elegan dalam melakukan komunikasi politiknya tanpa menggunakan fasilitas negara, yang justru ini akan menjadi preseden buruk dimata publik," katanya saat dihubungi via telepon, Senin (22/8)
Diketahui, beberapa waktu kebelakang, Rano Karno kerap menggunakan Rumah Dinas untuk pertemuan dengan beberapa tokoh diantarnya Walikota Serang Tb Haerul Jaman, Plt Ketua DPD Demokrat Banten Aeng Haerudin, dan Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi Banten Tihami. Berikutnya, Komisaris Bank Banten Asmudji HW, Sekda Banten Ranta Suharta, Ketua DPW PPP Banten Agus Setiawan dan Ketua DPW PAN Banten Masrori. Pertemuan itu disinyalir sebagai kegiatan politik Rano sebagai individu, bukan sebagai Gubernur Banten.
Lemahnya kualitas komunikasi politik calon petahana itu juga terlihat juga dari belum adanya partai koalisi pengusung 'Si Doel'.
"Sampai saat ini baru PDI Perjuangan yang mendukung Rano Karno, belum terlihat tanda-tanda partai lain akan merapat. Saya tentu tak bisa bilang tidak akan ada, karena politik itu dinamis, namun untuk ukuran petahana saya rasa ini sangat terlambat. Keterlambatan inilah yang menurut saya sebagai salah satu bukti dari lemahnya komunikasi politik yang dijalankan petahana" kata Giri yang juga salah satu tokoh pemuda di Kabupaten Lebak.
Hingga saat ini telah ada 4 partai yang menyatakan sikap akan mendukung pasangan Wahidin-Andika, yakni Golkar, Demokrat, PKS dan Hanura. Beberapa partai seperti PKB dan PAN juga disebut-sebut akan memberikan dukungannya pada pasangan WH-Andika. Artinya, jika hal itu benar maka hanya tersisa partai Nasdem dan Gerindra, yang bisa diajak oleh petahana untuk bergabung dalam koalisi.
Lemahnya komunikasi politik Rano Karno inilah yang menurut Giri, membuat internal PDI Perjuangan tidak solid. hal ini terlihat dari menyebrangnya dukungan Mulyadi Jayabay ke pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy
"kemudian kelemahan politik Rano Karno diantaranya menyebabkan kader PDIP yang kesohor dngn ketokohan politiknya di Banten yaitu Jaya Baya mengalihkan dukungan ke WH- Andika. Saya rasa indikasi tersebut bisa menobatkan bahwa Rano Karno sangat lemah dalam komunikasi politik" tambah Giri
Dampak dari lemahnya komunikasi politik yang dijalankan Rano Karno, adanya potensi menurunnya elektabilitas. Ketidakpastian partai pengusung dan calon pendamping, akan memberikan ketidakpastian dan ketidakpercayaan di kalangan pendukung akar rumput.
"ini akan berpengaruh pada elektabilitas Rano yang akan mudah digeser oleh kandidiat lain seperti WH - Andika, pad aakhirnya Rano akan semakin kesulitan untuk meraih kemenangan pada pilgub Banten kali ini. Saya rasa kematangan dalam komunikasi politik sangat penting dimiliki" tutup Giri. (Haedi/Red)

