Lebak, Progresnews.com -- Konflik antara warga dan PT Cemindo Gemilang semakin memanas, setelah ingkarnya produsen Semen Merah Putih itu terhadap komitmennya untuk membangun jalan khusus bagi operasional perusahaan.

Akibat tidak komitmennya perusahaan, membuat jalan nasional sepanjang jalur Bayah semakin rusak parah disebabkan hilir mudiknya mobil pengangkut bahan baku semen merah putih. Tak hanya disitu, aktivitas pengeboman untuk mendapatkan bahan baku pun, membuat rumah warga banyak yang retak. Belum lagi, bisingnya suara conveyor.

Keresahan warga terhadap aktivitas semen merah putih sebenarnya telah ada sejak lama, dan kembali memuncak beberapa hari lalu. Warga dari desa Pambuluan mengelar aksi unjuk rasa dengan memblokade pintu masuk area pabrik, Sabtu (10/6), menagih komitmen PT Cemindo Gemilang untuk membangun jalan khusus dan tidak memonopoli jalan nasional.

BACA JUGA :

Kemarahan warga terhadap PT Cemindo Gemilang semakin meninggi setelah mengetahui adanya pelibatan aparat keamanan dalam proses pengangkutan bahan baku semen merah putih pada saat aksi unjuk rasa digelar. Beberapa anggota terlihat mengawal mobil-mobil pengangkut bahan baku ke pabrik agar tidak dihadang warga.

"Kami sangat aneh dan kecewa kepada aparat, perusahaan jelas salah jelas melanggar aturan muatan yang muatannya melebihi standar jalan nasional yang seharusnya maksimal 8 ton tapi perusahaan memakai jalan ini dengan muatan lebih dari 25 ton. Tapi kenapa oknum aparat malah melindungi yang salah", kata Ahmad Ludin selaku Ketua Karang Taruna Desa Pamubulan.

Menurut a ktivis Aliansi Muda Banten Selatan Ersya Golda, k onflik antara warga dan PT Cemindo Gemilang, seharusnya tidak perlu terjadi jika pihak perusahaan berkomitmen terhadap kesepakatan sesuai dengan hasil rapat bersama pada 29 Mei 2017 di DPRD Banten yang dihadiri pula Kapolres Lebak, Dir Intel Polda, Dishub, BLHD, BIN Banten dan perwakilan warga terdampak dari Desa Pamubulan.

Ersa juga menyayangkan pihak pemerintah khususnya DPRD yang hanya menjadi penonton atas konflik warga dengan produsen semen merah putih itu. Sebagai wakil rakyat, DPRD kata Ersa seharusnya bisa mengentikan konflik itu. Caranya, dengan dengan menekan PT Cemindo Gemilang untuk segera komitmen terhadap kesepakatan.

"Seharunya pemerintah khususnya DPRD cepat respon dan tanggap pada setiap perosalan yang terjadi pada masyarakat. Karena hakekatnya DPRD ini adalah wakil rakyat yang harus mampu mengakomodir dan menyelesaikan segala persoalan yang menimpa masyarakat." kata Ersa

Apalagi kata Ersa, permasalahan jalan yang tak kunjung dibangun oleh PT Cemindo Gemilang itu semakin menambah daftar panjang penderitaan masyarakat. Jika DPRD terus acuh, bukan tidak mungkin konflik akan semakin meluas dan berkepanjangan.

"Jangan sampai DPRD terkesan tutup mata tutup telinga yang justru menjadikan perusahaan semen merah putih atau investor yang mau berinvestasi di Banten malah jumawa dan memperlakukan warga dengan semena-mena" ujar Ersya. (Red)