Serang, Progresnews.com -- Negara maju salah satunya Jerman memiliki tekhnik pengelolaan sampah yang cukup ber kelas . Meski belum maksimal, namun patut untuk dicontoh oleh provinsi Banten yang kini tengah dipimpin oleh Gubernur baru Wahidin Halim.

Di Jerman, permasalahn sampah dianggap sebagai masalah besar yang patut ditangani segera. Karenanya, pemerintahan disana banyak menerapkan kebijakan-kebijakan yang memaksa dan akhirnya menyadarkan banyak orang, tentang pentingnya mengelola sampah dengan baik.

Di Banten, berdasarkan data BLHD Provinsi Banten tahun 2016, sebanyak 33% sampah masih belum bisa dikelola dengan baik. Karena itu, dibutuhkan sentuhan gubernur Wahidin Halim beserta Wakilnya Andika Hazrumy untuk menangani permasalah tersebut.

Jika berkaca pada Jerman, negara ini memiliki 7 cara menangani sampah, yang patut ditiru. Di kutip dari Deutsche Welle, Senin (12/6), berikut 7 cara Jerman bisa terbebas dari sampah.

1. Tempat sampah botol yang bermacam-macam.

Di Jerman, sampai kaca atau botol dipisahkan dalam tiga tempat sampah yang berbeda: putih, coklat dan hijau. Botol berwarna biru atau kuning bisa masuk ke tong sampah hijau. Tapi gelas minuman yang rusak tak boleh masuk tempat sampah botol. Karena gelas terbuat dari jenis kaca yang berbeda dan pencampurannya akan mengganggu proses daur ulang.

2. Membuang sampah ada jamnya, tidak boleh sembarangan waktu.

Jika tidak memiliki tempat sampah di rumah yang cukup besar, warga di Jerman bisa menggunakan tempat sampah umum, dengan catatan tidak membuat kebisingan selama 'masa tenang'. Masa tenang di Jerman dimulai pukul 13.00 sampai 15.00 dan setelah pukul 20.00 pada hari-hari kerja. Artinya warga Jerman hanya boleh membuang sampah di pagi hari sampai tengah hari, atau jam 16.00 hingga 19.00 saja. Adapun Minggu dan hari libur berlaku masa tenang sepanjang hari, yang artinya tak boleh buang sampah di tempat sampah umum pada hari tersebut.

3. Botol minum dengan uang jaminan.

Di Jerman ada yang dikenal dengan botol dengan jaminan atau 'Pfandflaschen'. Sebutan untuk botol minum yang tidak dibuang di sampah, tetapi dibawa ke toko pengembalian botol di supermarket. Lalu uang jaminan yang diberikan saat membeli akan dikembalikan.

Untuk botol kaca biasanya seharga 8 sen per botol dan untuk botol plastik 10 sen. Karena banyak orang Jerman minum air botol, maka salah satu cara untuk mengurangi dampak pencemaran sampah ini dibuatlah kebijakan Pfandflaschen atau botol minum berjamin ini.

4. Cincin botol.

Warga di perkotaan bisa membawa sampah botol-botol ke dekat tempat sampah umum dan membiarkannya di luar tempat sampah. Kebijakan ini membuat senang banyak 'kolektor' botol. Karena mereka bisa mengumpulkan botol-botol itu dan membawanya ke supermarket lalu mendapat uang jaminan, yang tidak diambil oleh pemiliknya. Botol-botol tadi disediakan dalam sebuah besi yang disebut cincin pintar khusus, yang diciptakan khusus untuk menaruh botol kosong.

5. Tong sampah warna biru, kuning dan hitam.

Tong sampah di Jerman juga dibedakan berdasarkan warna. Warna biru untuk kertas dan karton, namun kotak pizza dan piring kertas untuk kentang goreng tidak termasuk di dalamnya. Pasalnya makanan sisa bisa membuat masalah dalam proses daur ulang.

Tong Kuning untuk segala macam kemasan. Beragam produk kemasan dimasukkan ke tempat sampah warna kuning, seperti misalnya dari aluminium, plastik, polystyrene, kaleng dan tetra paks.

Adapun tong hitam untuk sisanya. Sampah yang tak masuk tong biru atau kuning dimasukkan ke kotak sampah hitam atau abu-abu. Termasuk di sini, mulai dari popok sampai puntung rokok atau barang-barang lainnya.

6. Sampah berbahaya.

Banyak supermarket yang mengumpulkan baterai bekas. Setiap kota juga punya sistem pengumpulan sampah sendiri, termasuk sampah berbahaya. Truk sampah lalu akan mengambil semua sampah berbahaya ini, karena jika barang-barang ini dibuang secara khusus, karena kalau dibakar bisa mengeluarkan gas beracun.

7. Tempat sampah khusus untuk pakaian dan sepatu bekas.

DI Jerman, pakaian dan sepatu bekas tidak perlu dibuang di tempat sampah. DIsana, ada tempat-tempat khusus pengumpulan baju dan sepatu bekas di setiap kota. Pakaian yang terkumpul akan dijual atau didaur ulang. (Red)