Janji Bupati Pandeglang Tak Ditepati, Anak Penderita Gizi Buruk Kembali Mengamen

Pandeglang, Progresnews.com -- Arip (12 tahun), seorang bocah penderita penyakit giji buruk, kelayinan mata dan kejang-kejang pernah dijanjikan untuk mendapatkan biaya pengobatan oleh Bupati Pandeglang Irna Narulita. bahkan, sang ayah juga dijanjikan pekerjaan. Namun janji itu, nyatanya hingga saat ini belum ditepati.

Akibatnya, sang ayah yang harus banting tulang untuk pengobatan Arip dan memenuhi kebutuhan sehari-hari , terpaksa harus kembali mengemis di jalanan.

“Boro-boro pekerjaan pak nengok Arip juga tidak. Lantaran saya bingung untuk mencari makan dan kebutuhan sehari-hari, mulai hari ini saya dan Arip mulai ngemis lagi,” keluh Abas kepada Bantensatu.com, yang ditemui tengah mengemis di pasar Badak Pandeglang, Selasa (26/04).

Ketika di janjikan oleh Bupati Irna, Abas sempat berharap akan ada kunjungan dari pihak Puskesmas dan Dinkes Pandeglang untuk melakukan pemeriksaan terhadap Arip. Akan tetapi, intruksi orang nomor satu di Pandeglang tersebut tidak ada tindak lanjutnya. Abas sempat menunggu selam satu minggu di rumahnya, namun hasilnya nihil

“Satu minggu saya dirumah nunggu pihak pemerintah. Kirain saya akan melakukan pemeriksaan terhadap Arip, namun sampai saat ini tidak ada,” katanya.

Lanjutnya, pada saat pihaknya bertemu dengan Bupati Irna Narulita di alun-alun Pandeglang, memang Bupati memberikan nomor pribadinya untuk berkordinasi. Bahwa bila ada dinas terkait tidak segera menangani Arip untuk melakukan perawatan, pihaknya diminta untuk melaporkannya.

“Saya sudah pernah telpon nomor 0812100777 yang diberikan ibu Bupati (Irna,red). Namun tidak dijawab dan di sort mesenger (sms) pun tidak dibalas,” ujarnya.

Abas sebenarnya tak mau lagi kembali ke jalan untuk mengemis, namun karena karena desakan ekonomi serta kebutuhan anaknya untuk berobat, hal itupun terpaksa dilakukannya. “Ya mau gimana lagi pak, karena saya tidak punya pekerjaan lain, selain melaut,” kilahnya.

Dikonfirmasi terkait masalah tersebut, Kepala Dinkes Pandeglang, Indah Dinarsiani membantah jika Dinkes tidak mau merawat anaknya Abas. Ia berdalih penyakit yang diderita Arip berupa gizi buruk merupakan bawaan lahir sudah ada kelainan dan sangat sulit diobati.

Anehnya, Indah pun ikut menyalahkan SKPD lain yang tidak cepat tanggap dalam menangani masalah arip. Pasalnya menurut Indah, keluarga tersebut memang bukan hanya butuh penanganan dinkes lagi tapi SKPD lainya juga harus aktif khusunya Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans).

“Saat ini kami bingung, bukan Dinkes menutup mata tapi harus ada peran aktif juga dari SKPD lainya seperti Dinsos. Sebab anak tersebut juga masuk dalam kategori cacat dan bidang penangananya ada di Dinsosnakertrans,” katanya. (Haedi/Red)