Tangerang, Progresnews.com -- Affandi Koesoema adalah seorang pelukis berbakat yang pernah dimiliki Indonesia. Tercatat, sepanjang hidupnya ia telah menciptakan kurang lebih 2.000 karya lukis yang telah dipamerkan diberbagai belahan dunia. Tak heran jika diulang tahunnya yang ke-110, Senin (30/4) ini, perusahaan Google memberikan apresiasi dengan memasangnya di Google Doodle .
Sosok Affandi dikenal sebagai Maestro Seni Lukis dengan gaya abstrak dan romantisme. Ia lahir pada tahun 1907 di Cirebon, Jawa Barat. Ayahnya bernama R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon.
Affandi menerima pendidikan formal di sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS) , Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) , dan Algemeene Middelbare School (AMS) yang merupakan sekolah tinggi pada masa kolonial Belanda dan hanya segelintir anak negeri yang dapat merasakannya.
Perjuangannya didunia seni lukis tentu bukan perkara mudah, Affandi sebelumnya pernah menjadi guru dan bekerja sebagai tukang sobek karcis, serta pembuat gambar reklame disalah satu gedung bioskop di Bandung.
Saat usianya menginjak 26 tahun, Affandi muda memberanikan diri menikahi gadis cantik dari Bogor, Maryati. Sepanjang perkawinannya, mereka dikaruniai seorang putri yang diberi nama Kartika Affandi.
Karir Affandi mulai moncer di dunia lukis saat ia bersama Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi medirikan kelompok Lima Pelukis Bandung. Affandi dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia.
Pada tahun 1943, Untuk pertama kali Affandi mengadakan pameran tunggal di Gedung Poetera Djakarta, dimana saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai yang terdiri dari Ir. Soekarno , Drs. Mohammad Hatta , Ki Hajar Dewantara , dan Kyai Haji Mas Mansyur, memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian.
Berkat bakat melukisnya yang bagus, Affandi mendapatkan beasiswa kuliah di jurusan melukis di Santiniketan, India. Namun saat tiba di India, ia ditolak dengan alasan bahwa ia dinilai sudah tidak memerlukan pendidikan dalam seni lukis. Akhirnya uang untuk beasiswanya tersebut dimanfaatkan dengan mengadakan pameran keliling India.
Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat seperti Museum of Modern Art, Rio de Janeiro, Brazil, 1966, East-West Center, Honolulu, 1988, Festival of Indonesia AS, 1990-1992, Gate Foundation, Amsterdam, Belanda, 1993, Singapore Art Museum 1994, Centre for Strategic and International Studies, Jakarta, 1996, Indonesia-Japan Friendship Festival, Morioka, Tokyo, 1997, ASEAN Masterworks, Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998, serta berbagai tempat di Eropa, Amerika maupun Australia.
Sebagai salah satu Maestro Lukis Indonesia, tentu Affandi banyak mendapatkan penghargaan kelas dunia. Misalnya, pada tahun 1977, Affandi mendapat hadiah perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Kemudian, menjadi anggota Akademi Hak-hak Azasi Manusia yang diangkat oleh Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia.
Ditahun berikutnya, 1978, Pemerintah Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Affandi, yaitu " Bintang Jasa Utama ". Dan sejak tahun 1986, ia diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 1972-1978 di Yogyakarta.
Pada tahun 1976, Prix International Dag Hammerskjoeld menerbitkan sebuah buku kenang-kenangan tentang Affandi . Buku dengan tebal 189 halaman lebih itu diterbitkan dalam 4 bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia.
Kini, nama Affandi diabadikan dengan dibangunnya sebuah museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya, yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual. (Red)


