70 Tahun Merdeka, Indonesia Butuh Sosok Elanto Lainnya

3 hari ago Regional Leave a comment 67 Views

Berita Terkait

Ditanya Jokowi Soal Bawa Baki, Cia Jawab Dengan Bijaksana

1 hari ago

Mucikari Prostitusi Artis Disidangkan Hari Ini

1 hari ago

Atut Tak Dapat Remisi, Nazaruddin Dan Gayus Direkomendasikan KPK

2 hari ago

Jogjakarta, Progresnews.com — Aksi heroik Elanto Wijoyono (32 Tahun), warga Condong Catur Kabupaten Sleman Yogyakarta menghebohkan dunia maya karena aksinya menghentikan konvoi motor gede di Yogya pada Sabtu (15/8). Keberanian Elanto lahir karena keresahannya selama ini atas keberadaan moge yang kadang sewenang-wenang di jalan raya. Lalu, siapakh Elanto?

Seperti diberitakan Tempo, Elanto merupakan aktivis yang selama aktif dalam gerakan sosial ‘Jogja Ora Didol, Warga Berdaya’. Proyek ini merupakan sebuah gerakan sosial jalanan yang melibatkan banyak komunitas. Dari kalangan seniman di Yogya, kelompok street art, pesepeda, hingga aktivis lingkungan.

Gerakan komunitas ini beragam, menyoroti banyak, mulai dari maraknya pembangunan hotel, sistem pemerintahan yang bobrok, kekeringan akibat bangunan komersil, sampai fungsi-fungsi ruang publik yang lenyap di Yogya.

“Ini seperti organisasi tanpa bentuk, merespon isu apapun yang tak berjalan sesuai aturan,” ujar Elanto terkekeh saat menjelaskan ihwal komunitasnya Ahad (16/8).

Organisasi tanpa bentuk atau OTB merupakan sebuah istilah yang sempat populer di masa lalu, merujuk sebuah gerakan yang menjadi musuh awal rezim Orde Baru. Di Yogya, gerakan Elanto dan kawan-kawannya bergulir sejak tahun 2011 silam. Misalnya saat aksi mengkritik Wali Kota Yogya Haryadi Suyuti tahun 2013 lalu karena mengizinkan pembangunan ratusan hotel baru di Yogya dan mengabaikan ruang publik. Gerakan kritik itu diberi nama “Ora Masalah Har !”.

Aksi lainnya yang dilakukan Elanto Cs adalah menentang pemberian lahan-lahan persil negara untuk area reklame, dalam tajuk “Jogja Ora Didol”. Saat itu, komunitas Elanto memenuhi dinding-dinding ruang publik yang dipakai iklan komersil dengan lukisan grafiti.

Belakangan, Elanto gencar mekritik kebijakan pemerintah Kota Yogya karena telah mengizinkan hotel bintang empat berdiri di kawasan Malioboro yang membuat bangunan warisan budaya tionghoa hancur. Karena aksinya ini, Elanto ini berhasil membuat Ombudsman daerah memaksa pihak hotel dan pemerintah kota membangun ulang bangunan budaya yang hancur itu.

Karena berkedok perlindungan aparat negara yang justru banyak melanggar dan merugikan pengguna jalan lain, akhirnya Elianto pun menjegal rombongan moge yang menurutnya harus dilawan. “Urusan sepele berhenti di lampu merah saja nggak bisa dijaga, mau menjaga yang besar gimana?” ujar Elanto menkritik perilaku kepolisian dan pengendara motor gede.

Aksi heroik yang dilakukan Elanto tentu menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia yang tengah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-70. Keberanian Elanto dalam menegakan aturan dan mengkritik realitas sosial yang penuh ketimpangan, menjadi bahan renungan bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh elemen negara harus berani dalam menegakan aturan yang sudah sama-sama disepakati. (PN06)

Facebook

Twitter

Google +